Ancaman Gadget Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Oleh : Fina Afriany, S. Psi, M. Psi., Psikolog

Memiliki anak merupakan tanggung jawab yang besar bagi orang tua, maka penting bagi orang tua untuk dapat berperan aktif dalam proses tumbuh kembang anak, karena rumah merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar sehingga akan sangat menentukan kecerdasan fisik, mental, emosional, hingga sosial anak di masa depan. Akan tetapi faktanya di Indonesia, sekitar 1-3% anak di bawah usia 5 tahun mengalami keterlambatan perkembangan umum walaupun belum diketahui dengan pasti data angka kejadiannya, gangguan tumbuh kembang merupakan kejadian kedua tertinggi setelah kejadian masalah gizi pada bayi.

Balita yang mengalami gangguan dalam proses tumbuh kembang di kota Jambi memiliki presentasi yang mengalami peningkatan. Data dari Dinas Kesehatan Jambi setiap 1 tahun sekali di bulan Desember pada tahun 2020 menjelaskan bahwa balita autis dan balita dengan pemusatan perhatian dan hiperaktif bertambah. Di klinik tumbuh kembang kasus non-gizi yang sering ditemukan meliputi speech delay, gangguan pemusatan perhatian/hiperaktif (ADHD), autisme, gangguan motorik serta masalah perilaku anak.

Baca Juga :  SMPN 4 Muara Bungo Raih Juara 2 pada Kejuaraan Drumband Bupati Cup 2025

Banyak di temukan di masyarakat bahwa ketika anak memiliki gejala tumbuh kembang, seperti terlambat bicara, tidak respon saat nama dipanggil, tidak ada kontak mata dan anak terlalu aktif (hiperaktifitif) orang tua atau keluarga cenderung untuk mengabaikan dan berpikir anak akan bisa sendiri nantinya. Seiring usia anak terus bertambah kemampuannya tidak berkembang sehingga terlambat untuk segera ditangani yang berdampak pada kemampuan akademik anak ketika memasuki masa sekolah seperti, anak tidak memahami instruksi atau materi pelajaran, tidak dapat duduk tenang, tantrum, tidak mampu bersosialisasi dan anak juga tidak mandiri disekolah.

Salah satu penyebab terjadinya gangguan tumbuh kembang adalah penggunaan gadget secara berlebihan yang dapat menghambat perkembangan kognitif, motorik, sosial, dan bahasa anak. Dalam jurnal Golden Age menyatakan bahwa anak yang terpapar gadget lebih dari dua jam per hari cenderung mengalami gangguan dalam komunikasi ekspresif dan reseptif (Widuri dan Sari, 2023). Interaksi pasif terjadi ketika anak menggunakan gadget tanpa pendampingan dan stimulasi verbal yang dapat mengurangi frekuensi dialog dan keterlibatan sosial anak. Banyak pula orang tua yang memberikan gadget kepada anak sebagai solusi praktis untuk menenangkan atau mengalihkan perhatian anak saat mereka sibuk

Baca Juga :  Rapat Koordinasi Sekda Bungo bersama Kadis Dinsos dan Jajaran

Selain itu, ketika orang tua terlalu sibuk dengan gadget mereka sendiri dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam hubungan orang tua dan anak akibat penggunaan teknologi, anak tidak hanya kehilangan kesempatan untuk berbicara dan didengarkan, tetapi juga merasa diabaikan secara emosional. Keterbatasan interaksi dapat memengaruhi kepercayaan diri anak dalam berbicara, serta menghambat perkembangan bahasa. Rendahnya intensitas interaksi verbal dalam keluarga berpengaruh dengan tingginya angka keterlambatan bicara. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif orang tua dalam membatasi waktu layar, mendampingi penggunaan media digital, serta menciptakan lingkungan yang kaya interaksi verbal, sosial, emosional dan motorik untuk menstimulasi kemampuan anak.

Baca Juga :  Ketua DPRD Bungo Muhammad Adani Hadiri Launching OPBM oleh Bupati Bungo

Jika anak memiliki gejala masalah tumbuh kembang pada saat usia 2 tahun segera untuk membawa anak ke tenaga professional seperti psikolog, psikiater, dan dokter spesialis tumbuh kembang anak untuk dilakukan pemeriksaan sehingga anak dapat ditangani lebih cepat sebelum masa sekolah. Selain itu juga edukasi masyarakat dan deteksi dini juga menjadi solusi penting untuk mencegah dan menangani gangguan tumbuh kembang anak sejak usia dini.